Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan
Alfred Hitchcock, maestro sinema dunia, pernah berkata:
“Drama is life with the dull bits cut out.”
(Drama adalah kehidupan yang dipangkas dari bagian-bagian membosankan.)
Kalimat ini terasa sangat dekat dengan cara kerja Gunawan Satyakusuma, videografer asal Bandung dengan pengalaman panjang di televisi dan dunia dokumentasi. Video-videonya tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi menyaring momen—memilih mana yang penting, mana yang perlu dihilangkan—hingga tersusun menjadi cerita yang enak diikuti.
Tak jarang penonton merasa: meski durasi video cukup panjang, tahu-tahu sudah selesai. Tidak melelahkan, tidak terasa bertele-tele. Di situlah bekerja sesuatu yang lebih dari teknik: mata cerita.
Apa Itu “Mata Cerita”?
“Mata cerita” adalah kemampuan melihat dunia bukan hanya sebagai kumpulan gambar, tetapi sebagai alur naratif yang hidup.
Mata biasa melihat:
-
orang berjalan di jalan raya.
Mata cerita melihat:
-
wide shot → suasana jalan (konteks),
-
medium shot → interaksi manusia (aksi),
-
close-up → senyum, tatapan, atau gestur kecil (emosi).
Konsep ini sejalan dengan pemikiran Sergei Eisenstein, bapak teori montase Rusia, yang menyatakan bahwa makna tidak lahir dari satu shot, melainkan dari pertemuan antar-shot.
Gunawan mempraktikkan gagasan ini secara intuitif. Ia tidak sibuk memikirkan teori saat merekam, tetapi setiap potongan gambar yang ia pilih sudah mengandung potensi makna ketika disusun berurutan.
Storytelling Intuitif ala Gunawan Satyakusuma
1. Opening yang Menetapkan Suasana
Banyak karyanya—seperti Welcome to Bandung—dibuka dengan drone shot kota.
Fungsinya bukan sekadar pamer visual, tetapi sebagai establishing shot.
Seperti Akira Kurosawa yang kerap membuka film dengan gambar pembuka yang kuat, Gunawan langsung memberi tahu penonton:
“Inilah dunia yang akan kamu masuki.”
2. Alur yang Mengalir
Setelah opening, visual bergerak dari:
-
panorama luas,
-
ke aktivitas manusia,
-
hingga detail-detail keseharian.
Alur ini terasa seperti perjalanan, bukan rangkaian shot acak. Pendekatan ini mengingatkan pada Andrei Tarkovsky yang menekankan time pressure in a shot—bahwa setiap gambar membawa rasa waktu tertentu.
Gunawan mengatur ritme ini dengan halus, sehingga penonton terus terikat tanpa sadar sedang “digiring” oleh editing.
3. Emosi Lewat Detail
Dalam dokumentasi event, Gunawan tidak berhenti pada panggung dan pidato resmi. Ia mencari:
-
ekspresi peserta,
-
tawa kecil,
-
tepukan tangan,
-
atau momen diam sebelum acara dimulai.
Pendekatan ini mengingatkan pada Yasujiro Ozu, yang sering menggunakan detail sederhana—cangkir teh, gerakan kecil, ruang kosong—untuk menyampaikan emosi yang dalam.
Bagi Gunawan, detail bukan pelengkap.
Detail adalah jembatan emosi.
4. Musik sebagai Narasi
Walter Murch, editor legendaris Hollywood, menulis bahwa musik bisa menjadi pemandu emosi penonton yang lebih kuat daripada dialog.
Gunawan memahami ini dengan sangat baik.
Ia menempatkan musik bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai penuntun rasa:
-
musik tenang untuk panorama,
-
musik riang saat interaksi,
-
musik pelan untuk momen reflektif.
Tanpa narasi verbal, penonton tetap tahu apa yang harus dirasakan.
5. Closing yang Menyisakan Kesan
Setiap cerita butuh penutup.
Gunawan sering menutup video dengan shot yang sederhana namun kuat:
-
matahari terbenam,
-
senyum terakhir,
-
suasana kota di malam hari.
Tidak ada tulisan “tamat”.
Namun penonton tahu: ceritanya sudah selesai.
Itu tanda closing yang bekerja.
Melatih “Mata Cerita”
“Mata cerita” bukan bakat bawaan semata. Ia bisa dilatih.
Beberapa cara sederhana:
-
Lihat Dunia dalam Tiga Lapisan
Wide (konteks), medium (aktivitas), close-up (emosi). -
Pilih Momen yang Bermakna
Seperti Hitchcock, beranilah memangkas bagian yang tidak penting. -
Amati Kehidupan Sehari-hari
Ikuti jejak Kurosawa dan Ozu: detail kecil sering menyimpan cerita besar. -
Bercerita Tanpa Kata
Rekam 3–5 shot sederhana, susun dengan musik, lalu lihat apakah orang lain bisa memahami ceritanya tanpa penjelasan.
Penutup
“Mata cerita” bukan soal kamera mahal atau efek visual canggih.
Ia adalah soal kepekaan melihat dunia.
Gunawan Satyakusuma membuktikan bahwa dengan pengalaman, insting, dan kecintaan pada momen, dokumentasi bisa berubah menjadi kisah yang hidup dan menyentuh.
Seperti kata Andrei Tarkovsky:
“The task of the filmmaker is to capture time.”
Gunawan menangkap waktu—bukan sekadar untuk diarsipkan, tetapi untuk diceritakan kembali dengan makna.
Comments
Post a Comment