Editing Sebagai Jantung Film: Dari Teori Perfilman ke Gaya Gunawan Satyakusuma

Editing sering disebut sebagai jantung film. Bukan tanpa alasan—karena di ruang editing-lah sebuah cerita benar-benar lahir. Artikel ini membahas bagaimana teori perfilman klasik (Eisenstein, Kuleshov, hingga Kurosawa) menemukan relevansinya dalam gaya visual storytelling Gunawan Satyakusuma.


Editing: Lebih dari Sekadar Memotong Video

Masih banyak orang mengira editing hanya soal memotong footage, menambahkan transisi, atau memasang efek visual. Padahal dalam teori perfilman, editing adalah proses penciptaan makna.

Kamera memang merekam peristiwa, tetapi cerita yang hidup baru muncul ketika potongan gambar disusun secara sadar.

Gunawan Satyakusuma, videografer asal Bandung, pernah mengatakan:

“Kalau mau hasil videonya bagus dan menarik, coba kuasai editing dulu.”

Kalimat ini terdengar sederhana, namun jika ditarik lebih dalam, sejalan dengan fondasi teori perfilman dunia.


Teori Perfilman tentang Editing

1. Soviet Montage Theory – Sergei Eisenstein

Eisenstein meyakini bahwa makna film tidak lahir dari satu gambar tunggal, melainkan dari benturan antar-gambar.

Dua shot yang berdiri sendiri mungkin netral, tetapi ketika disusun berdampingan, akan melahirkan makna baru. Inilah inti montage:
editing adalah alat utama bercerita, bukan sekadar tahap teknis.


2. Kuleshov Effect – Lev Kuleshov

Eksperimen Kuleshov menunjukkan bahwa emosi penonton dibentuk oleh konteks editing, bukan hanya akting.

Contoh klasik:

  • Wajah netral + sup panas → penonton membaca “lapar”

  • Wajah netral + peti mati → penonton membaca “sedih”

Artinya, emosi bukan berasal dari gambar tunggal, melainkan dari hubungan antar-shot. Editing-lah yang “berbicara” kepada penonton.


3. Akira Kurosawa: Film Dibuat Tiga Kali

Sutradara legendaris Akira Kurosawa pernah berkata:

“Film dibuat tiga kali: saat ditulis, saat direkam, dan saat diedit. Yang paling menentukan adalah saat diedit.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa editing adalah tahap penentu:
di sinilah arah cerita, emosi, dan pengalaman penonton diputuskan.


Gaya Editing Gunawan Satyakusuma

Teori-teori klasik tersebut tercermin nyata dalam pendekatan Gunawan Satyakusuma.

1. Mengutamakan Storytelling

Editing dalam karyanya cenderung sederhana, minim efek, namun alur cerita terasa jelas dan mengalir. Penonton bisa mengikuti tanpa harus “dipaksa mengerti”.


2. Detail Kecil yang Bermakna

B-roll tidak diperlakukan sebagai filler. Detail kecil—gestur, ekspresi, suasana—disusun untuk memperkuat emosi dan konteks.

Inilah montage dalam praktik: makna lahir dari hubungan antar-detail visual.


3. Ritme yang Enak Diikuti

Editing mengikuti irama musik dan suasana acara. Tidak terburu-buru, tidak berlebihan.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan David Bordwell bahwa pengalaman sinematik dibangun melalui struktur dan ritme, bukan efek semata.


Cinematic: Dari “Film Look” ke Pengalaman Bercerita

Istilah cinematic saat ini sering direduksi menjadi:

  • warna tertentu,

  • LUT,

  • slow motion.

Namun karya Gunawan menunjukkan bahwa cinematic sejati adalah soal pengalaman, bukan tampilan.

Bukan sekadar terlihat keren,
melainkan membuat penonton merasa hadir di dalam momen.


Kesimpulan

Dari teori klasik hingga praktik lapangan, satu benang merah menjadi jelas:
editing adalah jantung storytelling visual.

  • Eisenstein dan Kuleshov menegaskan bahwa makna lahir dari editing.

  • Kurosawa menyebut editing sebagai fase paling menentukan dalam film.

  • Gunawan Satyakusuma membuktikannya lewat karya yang sederhana, sunyi, namun kuat bercerita.

Dengan demikian, ucapan “kuasai editing dulu” bukan hanya saran teknis, tetapi refleksi dari tradisi panjang teori perfilman dunia yang diterjemahkan ke dalam praktik nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula