Efek vs Storytelling: Dua Jalan dalam Editing Video

 

Editing video tidak selalu soal transisi kekinian atau efek visual yang ramai. Dalam praktiknya, ada dua pendekatan besar dalam editing: editing berbasis efek dan editing berbasis storytelling. Keduanya sah, tetapi membawa dampak yang sangat berbeda pada rasa sebuah video.

Gunawan Satyakusuma, videografer asal Bandung, pernah menekankan bahwa kunci hasil video yang bagus terletak pada penguasaan editing. Namun yang ia maksud bukan sekadar mahir efek, melainkan mampu menyusun cerita.


Editing: Antara Gaya dan Cerita

Di era media sosial, editing sering dipahami sebagai cara membuat video terlihat “wah”. Padahal, dalam dokumentasi dan film, editing justru berfungsi untuk menghidupkan pengalaman.

Perbedaannya sederhana:

  • efek mengejar perhatian mata,

  • storytelling mengejar rasa penonton.


✨ Editing Berbasis Efek

Pendekatan ini sangat umum dijumpai pada konten reels, shorts, atau iklan singkat.

Ciri khas:

  • transisi cepat,

  • speed ramp,

  • efek glitch,

  • zoom agresif,

  • whip-pan.

Kelebihan:

  • eye-catching,

  • cepat menarik perhatian,

  • cocok untuk durasi singkat.

Kekurangan:

  • cepat terasa basi,

  • emosi acara kurang tersampaikan,

  • fokus pada gaya, bukan pengalaman.

Contoh: liputan seminar dengan transisi cepat dan efek neon. Penonton mungkin berkata, “keren!”, tetapi tidak benar-benar merasa hadir di dalam acara tersebut.


📖 Editing Berbasis Storytelling

Berbeda dengan pendekatan efek, storytelling menempatkan cerita dan emosi sebagai pusat.

Ciri khas:

  • alur jelas (opening → isi → klimaks → closing),

  • ritme potongan mengikuti musik dan suasana,

  • banyak detail kecil: ekspresi, gestur, interaksi, ambience.

Kelebihan:

  • membuat penonton merasa terhubung,

  • mudah diikuti,

  • tidak cepat ketinggalan zaman.

Kekurangan:

  • membutuhkan insting observasi,

  • menuntut kesabaran saat merekam,

  • tidak bisa asal ambil footage.

Contoh: liputan seminar dimulai dari suasana venue, ekspresi peserta yang fokus, detail tangan mencatat, hingga klimaks tepuk tangan. Visualnya sederhana, tetapi penonton merasa seolah ikut duduk di ruangan itu.


📌 Perbandingan Singkat

Aspek         Editing Berbasis Efek          Editing Berbasis Storytelling
Fokus         Visual & transisi          Alur cerita & emosi
Kesan                            “Wah, keren!”          “Aku merasa ada di sana”
Ketahanan Waktu         Cepat basi          Lebih tahan lama
Cocok untuk         Reels, promo hype          Dokumentasi & narasi visual

Memilih Arah sebagai Videografer Pemula

Pertanyaannya bukan harus pilih yang mana, tetapi mana yang dijadikan inti.

Efek boleh dipakai, selama:

  • tidak menenggelamkan cerita,

  • tidak mengalihkan emosi,

  • dan tetap melayani narasi.

Gunawan Satyakusuma sendiri lebih menekankan storytelling. Baginya, efek hanyalah alat tambahan, sementara detail kecil dan alur emosi adalah nyawa video.


Kesimpulan

Efek bisa membuat video menarik sesaat.
Storytelling membuat video berkesan dan bertahan lama.

Videografer yang hanya mengejar efek akan terlihat keren untuk sementara. Namun videografer yang menguasai storytelling mampu menciptakan karya yang terus relevan, meski tren berganti.

Seperti pesan Gunawan Satyakusuma:

“Kuasai editing dulu.”

Dan yang dimaksud bukan sekadar bermain efek, melainkan memahami cerita yang ingin disampaikan oleh setiap potongan gambar.

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula