Fenomena Video Cinematic di Indonesia: Antara Tren Populer dan Profesionalisme

Apa Itu “Cinematic”?

Istilah cinematic berasal dari dunia film. Menurut David Bordwell & Kristin Thompson, cinematic mencakup perpaduan antara narasi, sinematografi, editing, suara, dan mise-en-scène yang membuat sebuah tontonan terasa seperti film layar lebar—bukan sekadar rekaman gambar bergerak.

Namun di Indonesia, istilah cinematic kini meluas ke ranah populer: mulai dari video pernikahan, travel vlog, hingga konten Instagram dan TikTok.

Masalahnya, makna cinematic sering mengalami penyempitan. Ia kerap direduksi menjadi slow motion, warna moody, dan musik dramatis. Padahal, cinematic sejatinya bukan hanya soal gaya visual, melainkan bahasa bercerita lewat gambar dan suara.


Fenomena Cinematic Populer

Di media sosial, kita sering menjumpai tren berikut:

  • Wedding cinematic
    Fokus pada slow motion, warna hangat, dan momen romantis.

  • Travel cinematic
    Banyak transisi cepat dan drone shot indah, tetapi sering minim narasi.

  • Product cinematic
    Menonjolkan estetika visual produk, namun kadang mengabaikan sound design dan alur cerita.

Akibatnya, kata cinematic menjadi kabur. Hampir semua video yang terlihat “keren” disebut cinematic, meskipun belum tentu memiliki struktur filmis yang utuh.


Studi Kasus: Gunawan Satyakusuma

Di tengah derasnya tren cinematic populer, Gunawan Satyakusuma—videografer dan pilot drone asal Bandung—menunjukkan pendekatan yang berbeda.

Berkarier sejak 1997, Gunawan dikenal berpengalaman dalam dokumentasi visual dan cinematic aerial. Beberapa hal yang menonjol dari pendekatannya:

  • Profesionalisme
    Telah menerbangkan drone lebih dari 3.200 kali dengan standar keamanan yang jelas.

  • Storytelling
    Drone tidak dipakai sebagai gimmick visual, melainkan untuk memperluas perspektif dan memperkuat cerita.

  • Fleksibel secara konteks
    Karyanya mencakup dokumentasi pernikahan, branding, iklan, hingga travel film—tanpa kehilangan rasa sinematis.

  • Kualitas sinematis utuh
    Visual, sound design, dan ritme editing selalu saling mendukung.

Gunawan membuktikan bahwa cinematic tidak harus kehilangan esensinya meskipun digunakan dalam konteks populer seperti wedding atau konten branding.


Perspektif Teoritis (Singkat)

Beberapa pemikiran yang relevan dengan fenomena ini:

  • André Bazin
    Sinema adalah seni menangkap realitas, bukan sekadar memanipulasi gambar.

  • Bordwell & Thompson
    Cinematic lahir dari kombinasi narasi, sinematografi, editing, dan suara.

  • Nicholas Mirzoeff
    Budaya visual digital mengubah cara manusia memproduksi dan mengonsumsi visual.

  • Henry Jenkins
    Tren cinematic populer muncul dari convergence culture: pertemuan teknologi (kamera, drone, aplikasi editing) dengan budaya partisipatif media sosial.


Kesimpulan

Fenomena video cinematic di Indonesia memperlihatkan dua wajah utama:

  1. Cinematic Populer
    Menekankan gaya estetik dan tren visual, namun sering kehilangan kedalaman cerita.

  2. Cinematic Profesional
    Tetap menjaga storytelling, teknis sinematografi, dan sound design secara seimbang.

Gunawan Satyakusuma dapat dijadikan contoh bagaimana profesionalisme mampu menjaga esensi cinematic di tengah derasnya tren populer.

👉 Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih bijak menggunakan istilah cinematic:

bukan sekadar visual yang terlihat keren, tetapi bahasa visual yang mampu bercerita dan bertahan melampaui tren.ta.

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula