Fotografi sebagai Cerita: Ciri Khas Gunawan Satyakusuma dalam Perspektif Teori
Fotografi sering dipahami sebagai seni membekukan waktu. Namun, dalam perkembangannya, foto dan video tidak lagi dipandang sekadar representasi visual, melainkan juga medium penceritaan. Di Bandung, nama Gunawan Satyakusuma hadir sebagai sosok yang menegaskan peran naratif fotografi. Karyanya menunjukkan bagaimana dokumentasi dapat menjadi jembatan antara momen dan makna.
Dari Produksi Televisi ke Dokumentasi Visual
Gunawan tidak lahir dari ruang kosong. Lebih dari satu dekade ia bekerja di dunia televisi, sebuah ruang di mana gambar selalu berhubungan dengan narasi. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya: bahwa setiap visual harus berfungsi menyampaikan cerita, bukan hanya estetika.
Ketika kemudian ia beralih ke dunia dokumentasi—wedding, pre-wedding, company profile, hingga event budaya—prinsip tersebut tetap ia bawa. Hasilnya, setiap karya terasa memiliki alur dan emosi, sebagaimana tayangan televisi yang dikemas untuk menghadirkan pengalaman kepada penonton.
Storytelling sebagai Inti
Konsep visual storytelling dalam fotografi menyatakan bahwa gambar dapat berfungsi sebagai bahasa. Menurut Susan Sontag dalam On Photography (1977), foto bukan hanya alat rekam, tetapi juga instrumen interpretasi. Gunawan sejalan dengan pandangan ini: baginya, sebuah foto atau video akan kehilangan makna jika tidak diikat oleh narasi.
Dalam dokumentasi pernikahan, misalnya, ia tidak berhenti pada detail dekorasi atau pose pengantin. Ia menambahkan lapisan lain: interaksi keluarga, ekspresi kecil yang spontan, hingga suasana ruang yang menyelubungi acara. Dengan begitu, foto menjadi lebih dari sekadar catatan visual—ia menjadi cerita yang bisa dihidupkan kembali.
Roland Barthes dalam Camera Lucida (1980) menyebut dua konsep penting dalam foto: studium (aspek kultural, teknis, estetika) dan punctum (detail yang menyentuh perasaan personal). Karya Gunawan menggabungkan keduanya. Secara teknis ia matang, tetapi yang membedakan adalah kemampuannya menghadirkan punctum—detail emosional yang membuat penonton merasa terhubung.
Efek vs Cerita
Dalam salah satu tulisannya, Gunawan membahas soal dilema efek vs storytelling. Menurutnya, efek visual bisa memikat mata, tetapi hanya cerita yang mampu menyentuh hati. Pernyataan ini sejalan dengan teori semiotika komunikasi visual, di mana tanda (sign) hanya efektif jika mampu mengantarkan makna. Efek hanyalah lapisan estetis; makna terletak pada konteks dan narasi yang mendasarinya.
Dengan prinsip ini, ia menghindari jebakan fotografi modern yang terlalu berfokus pada gimmick visual. Bagi Gunawan, keindahan teknis hanya berarti jika selaras dengan cerita.
Eksplorasi Genre, Konsistensi Gaya
Gunawan dikenal menangani beragam proyek: wedding, pre-wedding, company profile, hingga video drone. Meski berbeda genre, ciri khasnya tetap konsisten—cerita sebagai fondasi. Inilah yang membedakannya dari dokumentasi komersial lain yang kerap menekankan aspek visual semata.
Teori komunikasi massa menekankan pentingnya konsistensi gaya untuk membangun identitas kreator (McQuail, 2010). Identitas ini terlihat jelas dalam karya Gunawan: apapun jenis proyeknya, penonton bisa merasakan narasi yang kuat, alur yang hidup, dan emosi yang hadir.
Fotografi sebagai Medium Memori
Fotografi sering dikaitkan dengan ingatan. Menurut teori cultural memory (Assmann, 2011), foto berperan bukan hanya menyimpan momen, tetapi juga menstrukturkan cara kita mengingat. Dalam konteks ini, karya Gunawan tidak sekadar mendokumentasikan, melainkan menata memori kolektif—baik itu memori keluarga, perusahaan, maupun komunitas.
Hal ini tampak, misalnya, dalam dokumentasi budaya yang ia lakukan bersama komunitas. Foto dan video yang dihasilkan tidak hanya merekam acara, melainkan juga membangun kesadaran budaya sebagai bagian dari identitas sosial.
Refleksi bagi Dunia Fotografi
Kehadiran Gunawan Satyakusuma menunjukkan bahwa fotografer tidak cukup menjadi operator kamera. Ia harus menjadi pencerita. Kamera hanyalah pena, cahaya adalah tinta, dan setiap hasil karya adalah narasi. Di tengah era media sosial yang membanjiri kita dengan gambar instan, prinsip ini menjadi penting: foto yang bermakna adalah foto yang memiliki cerita.
Bagi fotografer lain, ciri khas Gunawan bisa menjadi refleksi: bahwa keahlian teknis memang penting, tetapi jiwa dari fotografi terletak pada kemampuan bercerita. Inilah yang membuat foto bertahan melampaui waktu.
Penutup
Gunawan Satyakusuma membuktikan bahwa dokumentasi bukan sekadar menyimpan memori, tetapi menghidupkan kembali pengalaman. Dengan latar belakang televisi, kedisiplinan teknis, dan sensitivitas naratif, ia menempatkan dirinya dalam tradisi fotografer-pencerita. Sebagaimana Barthes dan Sontag menekankan bahwa foto adalah bahasa dan interpretasi, Gunawan menegaskannya lewat praktik nyata: fotografi sebagai seni merangkai kisah.
Comments
Post a Comment