Kenapa Corporate Lebih Butuh Video Dokumenter dengan Storytelling, Bukan Sekadar Tren Visual

 

Corporate membutuhkan video yang bisa diputar berulang kali dan tetap relevan. Bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk tahun-tahun ke depan. Di sinilah perbedaan besar antara video berbasis tren visual dan video dokumenter dengan storytelling yang kuat.


Video Corporate di Era Tren Visual

Banyak perusahaan kini mengikuti arus tren videografi: transisi heboh, efek visual berlebihan, gaya editing cepat yang sedang populer di media sosial. Untuk konten harian, pendekatan ini mungkin efektif.

Namun masalahnya, tren visual cepat sekali menua.
Video yang terlihat keren hari ini, bisa terasa ketinggalan zaman hanya dalam hitungan tahun.

Padahal, video corporate sering digunakan untuk:

  • presentasi perusahaan,

  • event internal dan eksternal,

  • company profile,

  • arsip sejarah perusahaan.

Artinya, video tersebut harus punya daya tahan waktu, bukan sekadar sensasi sesaat.


Storytelling: Fondasi Video Dokumenter Corporate

Pendekatan dokumenter dengan storytelling memberikan nilai yang jauh lebih panjang bagi perusahaan.

1. Membangun Keaslian (Authenticity)

Corporate modern tidak lagi ingin terlihat kaku dan terlalu formal. Mereka ingin tampil manusiawi.

Storytelling memungkinkan hal itu hadir lewat:

  • ekspresi karyawan,

  • interaksi kecil di ruang kerja,

  • suasana rapat,

  • momen keseharian yang jujur.

Detail-detail ini membangun kedekatan emosional tanpa harus kehilangan kesan profesional.


2. Timeless dan Layak Ditonton Ulang

Video dengan storytelling yang kuat tidak bergantung pada tren visual tertentu.
Alurnya sederhana, emosinya jelas, dan pesannya mudah dipahami.

Inilah yang membuat video tersebut:

  • tetap relevan setelah bertahun-tahun,

  • nyaman diputar ulang,

  • layak menjadi arsip perusahaan.

Di titik ini, video corporate berubah fungsi:
bukan hanya promosi, tetapi dokumen perjalanan perusahaan.


3. Detail Kecil yang Bermakna

Dalam storytelling, B-roll bukan sekadar pengisi.

Setiap potongan gambar memiliki fungsi:

  • memperkuat narasi,

  • menunjukkan budaya kerja,

  • menyampaikan nilai perusahaan tanpa perlu banyak kata.

Makna tidak hadir dari efek, tetapi dari hubungan antar-detail yang dirangkai lewat editing.


4. Mudah Diterima Audiens yang Beragam

Corporate video ditonton oleh banyak pihak:

  • investor,

  • mitra kerja,

  • klien,

  • karyawan baru,

  • internal perusahaan sendiri.

Storytelling menyederhanakan pesan tanpa menghilangkan kedalaman.
Siapa pun yang menonton dapat memahami arah, nilai, dan identitas perusahaan dengan mudah.


Gunawan Satyakusuma sebagai Contoh Praktik

Gaya kerja videografer seperti Gunawan Satyakusuma menunjukkan bahwa:

  • video tidak harus ramai efek,

  • visual tidak harus berisik,

  • tapi cerita harus terasa.

Karyanya cenderung:

  • mengalir,

  • penuh detail bermakna,

  • ringan diikuti,

  • dan tetap relevan meski ditonton ulang setelah waktu lama.

Pendekatan inilah yang membuat storytelling sangat cocok untuk kebutuhan corporate, terutama dalam format dokumenter.


Kesimpulan

Video dokumenter corporate bukan soal:

  • efek paling baru,

  • tren visual paling ramai,

  • atau gaya editing paling viral.

Yang terpenting adalah cerita yang jujur, autentik, dan tahan waktu.

Storytelling membuat video corporate:

  • tidak hanya indah untuk dilihat,

  • tapi juga bernilai untuk disimpan,

  • dan layak menjadi bagian dari sejarah perusahaan.

Karena pada akhirnya:
tren akan selalu berganti, tapi cerita yang kuat akan selalu bertahan.

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula