Kuasai Editing Dulu: Rahasia Storytelling Visual ala Gunawan Satyakusuma

 

Gunawan Satyakusuma pernah berkata:

“Kalau mau hasil videonya bagus dan menarik, kuasai editing dulu.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya menyimpan pola berpikir yang sangat dalam. Artikel ini membahas maksud pesan tersebut, serta bagaimana editing, storytelling, dan cara videografer merekam di lapangan saling terhubung satu sama lain.


Editing: Otak dari Videografi

Banyak orang mengira kunci video yang bagus terletak pada kamera mahal, lensa tajam, atau angle unik. Padahal, menurut Gunawan Satyakusuma, inti dari sebuah video justru ada pada editing.

Kenapa?

Karena kamera hanya mengumpulkan bahan mentah, sedangkan editing adalah proses menyusun bahan itu menjadi cerita.
Di ruang editing-lah sebuah acara bisa terasa:

  • meriah,

  • hangat,

  • haru,

  • atau justru datar dan membosankan.

Editing menentukan rasa dari sebuah video.


Editing Menentukan Apa yang Harus Direkam

Videografer yang terbiasa mengedit akan memiliki kepekaan berbeda saat berada di lapangan. Ia mulai memahami:

  • shot mana yang wajib diambil,

  • shot mana yang sering tidak terpakai,

  • dan footage apa yang sering dibutuhkan sebagai jembatan antar scene.

Pengalaman sebagai editor membentuk insting visual.
Saat memegang kamera, ia tidak lagi asal merekam, karena di kepalanya sudah terbentuk bayangan alur cerita yang akan disusun nanti.


Simulasi Alur Editing → Rekaman di Lapangan

Berikut contoh bagaimana pola pikir editing memengaruhi cara merekam:

1. Opening

Kebutuhan editing:

  • pengenalan konteks

  • suasana awal acara

Saat rekaman:

  • logo acara

  • wide shot venue

  • peserta datang & registrasi


2. Isi Video

Kebutuhan editing:

  • variasi ritme visual

Saat rekaman:

  • MC atau pembicara

  • ekspresi peserta

  • detail kecil (tepuk tangan, senyum, catatan)


3. Transisi / B-roll

Kebutuhan editing:

  • penghubung antar adegan

Saat rekaman:

  • dekorasi

  • interaksi santai

  • angle unik atau candid


4. Climax / Highlight

Kebutuhan editing:

  • momen puncak emosional

Saat rekaman:

  • tepuk tangan meriah

  • ekspresi lega panitia

  • crowd shot (termasuk drone)


5. Closing

Kebutuhan editing:

  • penutup yang jelas dan rapi

Saat rekaman:

  • logo sponsor

  • suasana acara selesai

  • panitia saling tos atau berpelukan


Storytelling yang Visioner

Inilah maksud terdalam dari pesan Gunawan Satyakusuma:
menguasai editing akan membentuk cara berpikir yang visioner saat merekam.

Dengan pola pikir ini:

  • setiap shot punya tujuan,

  • waktu shooting lebih efisien,

  • momen penting tidak terlewat,

  • dan hasil akhirnya terasa utuh sebagai cerita.

Editing bukan sekadar memotong video, tapi cara berpikir sebagai visual storyteller.


Kesimpulan

Pesan “kuasai editing dulu” bukan hanya soal teknis, tapi tentang membentuk pola pikir.

Dari editing, seorang videografer belajar:

  • alur cerita,

  • ritme visual,

  • emosi,

  • dan detail kecil yang memberi nyawa pada video.

Ketika pola pikir ini terbawa ke lapangan, hasil rekaman bukan lagi sekadar kumpulan footage, melainkan bahan baku sebuah kisah yang bermakna.

Karena pada akhirnya, videografi bukan hanya tentang merekam momen —
tetapi tentang menceritakan ulang momen tersebut dengan rasa dan kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula