Proses Kreatif Pembuatan Film Pendek Siswa SMPN 16 Bandung
SMPN 16 Bandung memiliki tradisi unik dalam mengembangkan kreativitas siswa, khususnya kelas IX. Setiap tahun, para siswa mendapatkan tantangan untuk membuat film pendek sebagai bagian dari ujian praktik lintas mata pelajaran: Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Proyek ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan ruang belajar kreatif yang melatih kolaborasi, seni, komunikasi, dan tanggung jawab melalui medium audiovisual.
Kolaborasi Lintas Mata Pelajaran
Seluruh proses produksi film dikerjakan langsung oleh siswa. Mulai dari penulisan naskah dalam tiga bahasa, pemilihan tema cerita, hingga proses syuting dan penyuntingan.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari teori bahasa di kelas, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan penceritaan. Bahasa tidak lagi sekadar teks, melainkan menjadi bagian dari karya hidup.
Peran Jasa Dokumentasi Bandung dan Sosok “Abah”
Agar program berjalan optimal, SMPN 16 Bandung bekerja sama dengan Jasa Dokumentasi Bandung sebagai production house (PH) pendamping. Tim ini mendampingi proses produksi dari awal hingga akhir, mulai dari pendampingan teknis saat shooting, penyediaan peralatan, hingga pengarsipan dokumentasi.
Salah satu sosok yang paling dekat dengan siswa adalah Gunawan Satyakusuma, anggota tim Jasa Dokumentasi Bandung yang akrab dipanggil “Abah”. Dengan pendekatan yang hangat dan membumi, Abah tidak hanya mengajarkan teknis kamera dan produksi, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, kerja sama tim, dan kepercayaan diri.
Kehadirannya membuat suasana produksi terasa santai namun tetap profesional—sebuah kombinasi yang membuat siswa berani berekspresi tanpa takut salah.
Struktur Kelompok Produksi
Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok produksi, masing-masing beranggotakan sekitar 14–16 siswa. Pembagian ini dirancang agar setiap siswa memiliki peran sesuai minat dan kemampuannya, seperti:
-
Penulis naskah
-
Pemeran (talent)
-
Sutradara
-
Penata artistik
-
Tim teknis
Dengan sistem ini, tidak ada siswa yang hanya menjadi penonton. Semua terlibat dan belajar bertanggung jawab atas perannya masing-masing.
Tahapan Produksi Film Pendek
Proses pembuatan film biasanya berlangsung dari September hingga Desember, melalui empat tahapan utama:
1. Mengupas Naskah
Siswa bersama guru pembimbing membedah ide cerita, struktur narasi, serta penggunaan bahasa sesuai mata pelajaran yang terlibat.
2. Pembagian Peran dan Reading
Setelah naskah matang, dilakukan pembagian peran. Para pemeran melakukan reading untuk memahami dialog, karakter, dan alur cerita.
3. Shooting (Pengambilan Gambar)
Proses pengambilan gambar dilakukan di lingkungan sekolah maupun lokasi sekitar sesuai kebutuhan cerita. Siswa terlibat langsung dalam aspek teknis dan artistik dengan pendampingan dari tim Jasa Dokumentasi Bandung.
4. Review dan Evaluasi
Setelah shooting selesai, hasil karya diedit dan direview bersama guru serta tim dokumentasi untuk evaluasi dan pembelajaran bersama.
Puncak Apresiasi: Cinema Six Teen Award
Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah Cinema Six Teen Award, malam pemutaran dan apresiasi film pendek siswa kelas IX SMPN 16 Bandung.
Acara ini rutin diselenggarakan di Bandung Creative Hub setiap bulan Maret tahun berikutnya. Seluruh film dari tiap kelas diputar secara bergiliran dan disaksikan oleh siswa, guru, orang tua, serta tamu undangan.
Lebih dari sekadar tontonan, Cinema Six Teen Award menjadi momen berharga bagi siswa untuk merasakan pengalaman layaknya sineas profesional—karyanya ditonton, diapresiasi, dan dirayakan bersama.
Pendidikan Kreatif dan Kolaboratif
Proyek film pendek SMPN 16 Bandung bukan hanya ujian praktik, melainkan laboratorium kreatif yang menumbuhkan kerja sama, komunikasi, dan keberanian berekspresi.
Dengan dukungan guru, kolaborasi antarsiswa, serta pendampingan dari Jasa Dokumentasi Bandung bersama Gunawan Satyakusuma (Abah), proses belajar berubah menjadi pengalaman yang membekas—tidak hanya menghasilkan film, tetapi juga membentuk karakter dan kepercayaan diri siswa.
Comments
Post a Comment