Belajar, Bersyukur, dan Fenomena “Setelah Bisa Lupa Daratan”

Melalui pendekatan G-Loop Method by Gunawan Satyakusuma

 Ada satu fenomena yang sering muncul di dunia pembelajaran, terutama ketika seseorang belajar melalui pengalaman langsung, bukan dari ruang kelas formal.

Awalnya, mereka datang dengan semangat ingin tahu, dengan sikap rendah hati, bahkan rela “mengemis ilmu” demi bisa ikut terlibat. Tapi setelah mereka bisa, semua berubah.

Orang yang dulu begitu sopan dan haus belajar tiba-tiba merasa dimanfaatkan.

Sebagian bahkan menjelek-jelekkan orang yang pernah membimbingnya.


Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?



---


Belajar Lewat Pengalaman: Cara Efektif yang Sering Disalahpahami


Banyak orang belajar bukan lewat teori, melainkan lewat keterlibatan langsung.

Pendekatan ini dalam dunia pendidikan dikenal sebagai experiential learning — belajar melalui pengalaman nyata.

Model ini menekankan bahwa pemahaman sejati tidak lahir dari membaca buku, tetapi dari merasakan, mencoba, dan merenungkan hasilnya.


Namun, dalam praktiknya, model seperti ini sering menimbulkan salah paham.

Ketika seseorang diajak untuk belajar sambil ikut terlibat dalam proyek, sebagian menganggap dirinya sedang “bekerja”. Padahal, hakikatnya mereka sedang diberi kesempatan belajar dari situasi nyata — sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar teori.



---


Ketika Rasa Ego Mengalahkan Rasa Terima Kasih


Dalam psikologi sosial, ada istilah role reversal discomfort — ketidaknyamanan seseorang ketika peran sosialnya berubah.

Ketika dulu dia belajar dari orang lain, posisinya berada di bawah; tapi setelah bisa, egonya menolak mengakui masa lalunya sebagai “pembelajar”.

Untuk menenangkan dirinya, ia menciptakan narasi baru:


> “Saya dulu dimanfaatkan.”




Padahal yang sebenarnya terjadi: ia justru diberi ruang belajar yang tak ternilai harganya, bahkan mungkin disertai penghargaan finansial sebagai bentuk apresiasi.


Fenomena ini berakar dari ego yang belum dewasa.

Alih-alih bersyukur karena pernah dibimbing, ia justru ingin menghapus jejak masa belajarnya — agar tampak seolah-olah semua kemampuan yang ia miliki muncul dari dirinya sendiri.



---


Antara Berbagi Ilmu dan Menjaga Keseimbangan


Bagi orang yang gemar berbagi, situasi seperti ini menimbulkan dilema.

Ada perasaan bersalah ketika mulai berpikir untuk menata sistem pembelajaran agar lebih terstruktur — misalnya dengan menetapkan biaya bagi yang ingin belajar lebih dalam.


Namun sebenarnya, rasa bersalah itu tidak perlu.

Dalam psikologi, hal ini disebut helper’s guilt — perasaan bersalah yang muncul ketika seseorang yang senang membantu mulai menuntut keadilan bagi dirinya sendiri.

Padahal, tidak ada yang salah dari hal itu.


Berbagi tidak selalu berarti gratis.

Ilmu, waktu, dan pengalaman juga punya nilai.

Ketika seseorang membayar untuk belajar, bukan berarti sang pengajar menjadi “mata duitan”, tetapi justru menjaga nilai ilmu agar tidak disepelekan.


Penelitian dari Dan Ariely di Duke University bahkan menunjukkan bahwa orang yang membayar sesuatu — sekecil apa pun — akan lebih menghargainya dan lebih serius menjalaninya.

Dengan kata lain, biaya bukan penghalang untuk belajar, tapi penanda kesungguhan.



---


Menata Niat, Menjaga Diri


Berbagi ilmu adalah hal mulia.

Namun berbagi tanpa batas sering membuat seseorang kehilangan arah — bukan karena ia berhenti tulus, tapi karena ia kelelahan secara emosional.

Berbagi seharusnya tidak membuat seseorang dirugikan, baik secara tenaga, waktu, maupun reputasi.


Ada kalanya, menata sistem bukan berarti berhenti berbagi.

Membuat batas dan struktur justru menjaga nilai dari apa yang dibagikan.


Mungkin memang tidak semua orang mampu memahami niat baik dengan cara yang benar.

Namun selama hati kita tahu bahwa yang kita lakukan didasari niat untuk membantu, bukan memanfaatkan, maka kebenaran itu akan menemukan jalannya sendiri.



---


Penutup: Saatnya Introspeksi


Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, mungkin pernah ada masa di mana kita belajar dari seseorang.

Cobalah sejenak mengingat kembali bagaimana perjalanan itu dimulai.

Apakah kita masih menyimpan rasa hormat pada mereka yang dulu membuka jalan bagi kita, ataukah ego sudah menutupinya?


Belajar bukan sekadar tentang kemampuan yang kita peroleh, tetapi tentang bagaimana kita menghargai proses dan orang-orang yang ikut membantu kita tumbuh.

Karena pada akhirnya, ilmu tanpa rasa hormat hanyalah keterampilan tanpa nilai.

Konsep ini menjadi bagian dari G-Loop Method by Gunawan Satyakusuma.

My Google Map

Comments

Popular posts from this blog

Mata Cerita ala Gunawan Satyakusuma: Storytelling Intuitif dalam Videografi Pendahuluan

Pengalaman Gunawan Satyakusuma dalam Recovery File untuk Photographer dan Videographer

7 Latihan Fotografi ala Gunawan Satyakusuma untuk Pemula